Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 September 2015

Orang yang Selalu Cuci Tangan

Cerpen: Seno Gumira Ajidarma

Semua orang di kantornya sudah tahu, ia selalu mencuci tangannya. Banyak orang juga selalu mencuci tangan, tetapi tidak sesering dirinya. Belum pernah ada yang menghitung, berapa kali ia mencuci tangannya dalam sehari, tetapi dapat dipastikan sering sekali. Kalau ada orang yang menyebut namanya, yang diingat setiap orang adalah, “Oh, yang selalu cuci tangan itu ya?”, dan akan selalu ditanggapi kembali dengan, “Nah! Iya, yang selalu cuci tangan!”

Minggu, 07 April 2013

Huruf Terakhir

Cerpen: Benny Arnas

NAMAKU Lili, ujarmu di perkenalan kalian dua tahun yang lalu, perkenalan yang akhirnya mengantarkan kalian ke pelaminan, pernikahan yang melempar kalian ke kesemuan yang lucu, kenyataan yang menyeret kalian ke dalam lakon berdarah siang itu!
***
SEJAK dipromosikan menjadi sekretaris direktur, sebagian besar waktumu kau habiskan untuk urusan pekerjaan. Kau tak pernah tahu, sedari kau putar kunci Avanza lalu meluncur ke kantor di utara kota, Illy selalu berhasil membawamu kembali. Dari pagi hingga malam me ninggi, kalian membincangkan banyak hal. Dari pekerjaan, kesetaraan gender, kurs rupiah yang makin anjlok, anggotaanggota DPR yang beradu mulut dan saling tonjok, isu naiknya harga BBM, hingga perkara asmara.

Minggu, 10 Maret 2013

Kelamin yang Berjalan

Cerpen: Mhd. Zaki 
Ia lahir sebagai wanita dewasa yang pemalu. Lahir dari keluarga sederhana dengan menggantungkan hidup dari kedua orang tuanya yang usianya sudah renta. Kalau diperkirakan, usia orang tuanya tidak kurang dari 150 tahun. Usia yang tidak biasa memang! Kalaulah orang-orang biasa, tentu tidak akan sanggup hidup selama itu. Namun keputusan untuk hidup lebih lama, terpaksa mereka ambil dengan pertimbangan berat yang menyayat. Adik-adiknya yang masih kecil-kecil perlu makan untuk tetap bisa terus melanjutkan hidup.

Minggu, 10 Februari 2013

Lukisan Bergetar


Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya, perempuan bawel yang mempekerjakanku serupa budak. Aku lari dari keluarga perempuan bawel itu, dan menemukan duniaku sendiri, bekerja, hingga membeli rumah tua yang kini kutempati.

Minggu, 27 Januari 2013

Negeri Tadah Hujan

Cerpen: Mhd. Zaki

Udara di luar begitu lembab. Jendela di pojok rumah sengaja aku biarkan sedikit terbuka dengan harapan, agar udara segar tidak merasa sungkan untuk bisa masuk menggantikan udara pengap bercampur asap rokok yang memenuhi hampir disemua ruang rumah. Namun sial! Itu semua sepertinya percuma. Tidak ada tanda-tanda gerakan angin yang menyelip masuk. Mungkin ia kelelahan karena tadi siang sudah menumbangkan puluhan pohon yang telah menyumbangkan oksigen bagi warga kampung kami. Termasuk pohon tua kesayangan Pak Amin tetangga sebelah rumahku yang ukurannya melebihi tiga badan orang dewasa. Sementara suara jengkrik masih saja terdengar seperti merintih gerah kehausan. Namun ia seakan setia ingin tetap menemani kami menghabiskan malam.

Minggu, 20 Januari 2013

Juru Gambar

Aku bukan seorang pelukis terkenal. Hanya, setiap kali aku harus melakukannya untuk menyambung hidup. Ajaib, ada saja orang yang berminat memiliki goresan tanganku. Memajangnya di dinding-dinding rumahnya.  

Kamu itu, setiap kali membuat gambar selalu saja dimulai dengan membuat bulatan. Lingkaran macam apa itu? Ada yang bulat, ada dua sejajar seperti buah kenari. Kali ini apa lagi? Aneh-aneh saja kamu ini,” komentar istriku yang melongok dari balik punggungku.

Minggu, 13 Januari 2013

Terompet Tahun Baru Pak Pinorbo


Sebuah terompet ungu masih saja tergeletak di atas almari ruang keluarga. Pertama kali aku melihatnya dua minggu yang lalu, pada hari pertama di tahun baru. Bentuk terompet itu sangat unik. Ujungnya berbentuk corong dengan rumbai-rumbai dari kertas mengkilap yang berwarna keemasan.

Minggu, 06 Januari 2013

Rajawali


Aku merindukanmu Rajawali, sepekat pelangi merindukan hujan sore tadi. Aku merindukanmu rajawali, merindukan mata yang berpendar mengajakku terbang tinggi dan menari. Aku merindukanmu rajawali seperti kala itu kita berjanji untuk kembali, bersama suatu hari.

Minggu, 30 Desember 2012

Sebuah Jalan


Jalanan sepi dan basah, kawan. Tetapi, lampu-lampu jalanan kiranya masih menyala kala itu, sehingga paras pucat perempuan itu sempat tertangkap meski tidak terlalu jelas lantaran cahaya lampu terhalang ranting akasia. Hujan sudah selesai, tetapi udara tentu saja sangat dingin. Tanpa hujan pun udara malam tetap dingin, bukan? Maafkan kalau aku kelihatan sok tahu, kawan. Kau tentu boleh tak setuju dengan bermacam ungkapan atau perumpamaan yang kubuat dalam menceritakan semua ini.

Sabtu, 22 Desember 2012

Langit Menggelap di Vredeburg


Beginilah menjelang senja di jantung kota. Sekelompok remaja nongkrong di atas motor model terbaru mereka sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Ada juga remaja atau mereka yang beranjak dewasa duduk berdua-dua, di bangku semen, di atas sadel motor, atau di trotoar. Anak-anak kecil berlarian sambil disuapi orang tuanya. Pengamen yang beristirahat setelah seharian bekerja. Dan orang gila yang tidur di sisi pagar.

Minggu, 11 November 2012

Seragam


Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.

Minggu, 04 November 2012

Buku-Buku Kutu Buku

Cerpen: Pamusuk Eneste 


Sebetulnya sudah berulang kali istri Kolbuher memperingatkan agar buku-buku di perpustakaan suaminya tidak ditambah lagi. Namun, peringatan itu tampaknya seperti angin lalu saja. Tiap hari ada saja buku yang datang. Tiap hari ada saja majalah atau jurnal yang datang.

Minggu, 28 Oktober 2012

Jakarta 3030

Cerpen: Martin Aleida 

BONGKAH emas yang menengger di puncak Monumen Nasional sudah lama ditakik dan disingkirkan dari tempat duduknya. Dia digelindingkan begitu saja di daratan. Tak lebih berharga dari segundukan tanah merah. Emas sudah tak bisa mempertahankan kemuliaannya di atas besi atau timah. Anak-anak saja sudah bermain-main dengan lempengan-lempengan emas yang mereka ciptakan dari adonan kimia.

Minggu, 21 Oktober 2012

Dua Wajah Ibu


Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.

Minggu, 14 Oktober 2012

Tangan-Tangan Buntung


Tidak mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin.
Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendesak, agar Nirdawat segera disyahkan sebagai presiden baru.

Minggu, 30 September 2012

Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus…

”Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.”
Serayu, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? O Serayu, sesedih apakah perasaan seorang wanita yang melihat senja itu dari balik jendela kereta ketika melintas di jembatan panjang sebelum stasiun Kebasen?

Minggu, 23 September 2012

Hening di Ujung Senja


Ia tiba-tiba muncul di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. Katanya itu anaknya yang bungsu. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua?

Minggu, 09 September 2012

Kunang-Kunang di Langit Jakarta

Ia kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan kenangan. Padahal, ia berharap menghabiskan liburan musim panas di Pulau Galapagos—meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan karena alasan romantis, tapi karena kura-kura. Kura-kura itu bernama George.

Minggu, 02 September 2012

Selawat Dedaunan

Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.

Minggu, 26 Agustus 2012

Kabut Ibu

Dari kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.